Piluh
Malam semakin larut, keheningan ini membuatku semakin kesepian. Kulihat kelangit tak ada satupun bintang yang menghiasi malam ini.
Kulangkahkan kakiku dan kemudian duduk dibangku panjang itu, entah kenapa ada sesuatu yang mengusik pikiranku. Aku masih duduk dan termenung, nada hp pesan berbunyi dan ternyata itu dari seseorang yang kurindukan untuk berada didekatku.
Mataku berkaca-kaca membaca pesan singkat itu. Sekali lagi aku berkata dalam hati kenapa musim semi ini tak kunjung berganti.. Yeahh, dunia ini seakan menertawakanku dikala aku belum mampu untuk bangun dan menegakkan kakiku seperti waktu dimana aku belum merasakan kehilangannya.
Semenjak kepergiannya, hari hari yang kulalui begitu terasa sulit. Semasa hidupnya aku paling tidak bisa mengungkapkan kata i love you mama. Saya lebih suka melakukan sesuatu yang membuatnya bisa merasakan apa yang saya rasakan seperti ketika itu saya menggendongnya ke kamar mandi karena pada saat itu mama belum bisa berjalan habis operasi bagian kaki dan aku memasakan masakan yang ingin mama makan dan kami bercerita hingga larut malam serta menghapus air mata mama. Itu momen yang paling berharga yang aku miliki ketika mama mengatakan sesuatu yang membuatku terharu dan kuat dalam menjalani hidup iya seakan mengatakan pesan terakhirnya kepada saya. Ahh lagi lagi aku menitikan air mata mengingat kejadian itu. Terkadang dadaku sesak teringat ketika mama belum dipanggil Tuhan.
Harta yang paling berharga yang mama titipkan buat aku adalah sosok laki laki manja dan aku memanggilnya adik. Dimana mama berpesan agar aku bisa menjadi sosok kakak dengan kepribadian yang bisa mendidik adik dan menjalin komunikasi yang baik dengannya. Menjalani kehidupan saat ini aku merasa sangat tidak berguna dimana saya belum bisa membantu memberikan apa yang seharusnya seorang kakak berikan seperti yang telah mama lakukan buat kami selama ini.

Komentar
Posting Komentar